Ulama berasal dari akar kata ‘a-li-ma, yang memiliki arti mengetahui
dan memahami. Orangnya disebut dengan ungkapan alim (ism fa’il) dengan
bentuk jamak ‘ulama. Kata ini dalam bentuk mashdar memiliki arti
pengetahuan dan ilmu, yang didefinisikan sebagai:
إدراك الشيء على ما هو عليه إدراكا جازما
“Mengetahui sesuatu pada ihwal yang
sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti.” Pengertian tersebut memiliki negasi/sifat
bertentangan dengan beberapa terkait daya pikir manusia seperti zhann (dugaan),
wahm (pemahaman yang cenderung bertentangan) dan jahalah
(ketidaktahuan) atau jahalah murakkab (pemahaman keliru/sesat yang
dianggap benar).
![]() |
| Program Tahfizh Pesantren Al-Manaar; Berkomitmen dan Konsekwen |
Pemahaman yang benar tidak hanya didapat dengan penalaran dan bukti-bukti
empirik sebagaimana pengetahuan secara umum dibangun di atasnya. Satu bagian
terbesar lain dari pengetahuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia
(makhluk-Nya) melalui penyampaian wahyu yang harus disikapi dengan
sikap/pemahaman yang berbeda yaitu keyakinan (intuisi). Mendapatkan pengetahuan
dan pemahaman yang benar dengan keyakinan sangat berbeda dengan pengetahuan
secara umum yang bisa didapatkan dengan observasi dan penalaran rasional.
Keyakinan adalah pengetahuan terdalam (spiritualitas) yang hanya bisa diraih
dengan sikap mendengar dan patuh (sami’na wa atha’na) pada segala yang
disampaikan Allah melalui pewahyuan, yang seringkali berada di luar kemampuan
nalar.
Mengenal Allah tidak dapat diraih dengan sikap menyangsikan, mempertanyakan
atau sikap keraguan lain yang seringkali dijadikan landasan dalam kerangka
berpikir manusia (ilmiah). Pondok pesantren, dengan berpegang teguh pada dua
sumber pewahyuan – Al-Quran dan Sunnah, merupakan media pembelajaran yang akan
mengantarkan santri pada keyakinan tersebut. Melalui berbagai media
pembelajaran, bimbingan ibadah dan pembentukan moral (aqidah dan akhlak),
segala bentuk pembelajaran santri tidak lain bertujuan untuk mengenal Allah (ma’rifat),
yang tidak hanya berpijak pada rasionalitas atau bukti-bukti empirik, akan
tetapi pada potensi keimanan (fitrah) yang sudah dibawanya sejak ia
tercipta. Dengan potensi tersebut ia mendapatkan keyakinan yang kuat untuk
selalu mengikuti segala petunjuk yang diberikan Allah SWT sebagaimana
digambarkan dalam Firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي
جَنَّاتِ النَّعِيمِ [١٠: ٩]
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka
karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang
penuh kenikmatan.” (Yunus/10: 9)
Pesantren bukanlah tempat untuk melahirkan generasi yang hanya menguasai
pengetahuan tentang agama (kognitif belaka). Pesantren adalah tempat untuk
melahirkan manusia-manusia yang beragama secara penuh (kaffah) dalam
bentuk pengamalan, yang substansinya adalah sebagai sosok yang selalu merasa
takut kepada Allah SWT yang di dalam Al-Quran disebutkan sebagai identitas
seorang ulama.
إِنَّمَا يَخْشَى
اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ [٣٥: ٢٨]
“Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir/35: 28)
Figuritas keulamaan kadang hanya dipahami sebagai status sosial atau bahkan
dipandang sebagai satu profesi, sehingga muncul setigma negatif dan ikon
stereotip yang sama sekali tidak senada dengan substansi rasa takut kepada
Allah SWT. Terlebih ketika identitas tersebut diikuti dengan konsekuensi
profesionalitas yang menentukan seberapa besar jumlah yang harus dibayar atau sebatas
ikon-ikon dangkal yang kemudian dimunculkan sebagai karakteristik ulama. Peci,
kain sorban, sarung, tasbih, bahkan sesuatu yang tidak hanya bersifat atribut
seperti poligami dan hak-hak ekslusif, tak jarang dilekatkan pada figur
keulamaan.
Ketakutan kepada Allah bersifat fundamental, menjadi nafas setiap
tindak-tanduk dan sikap seorang ulama, yang tidak akan ditemui pada atribut
atau terukur dengan publisitas. Ketakutan ini datang dari pengetahuan yang
lebih memperkenalkannya dengan Allah dan segala kuasa-Nya. Ibnu Abbas
mengatakan, ketakutan itu merupakan sesuatu yang dapat menjaganya dari
mensekutukan Allah, yakni memenuhi segala bentuk penghambaan dan ibadah kepada
Allah dengan kerangka keikhlasan yang membebaskan seseorang dari tujuan-tujuan
selain Allah, kepentingan sesaat atau sifat mengikuti hawa nafsu.
Pondok pesantren merupakan salah satu sentra kaderisasi ulama, dimana
santri ditempa dengan pendidikan karakter yang tersampaikan dengan berbagai
media, interaksi dan segala bentuk aktivitasnya, secara penuh. Setiap harinya
seorang santri mengikuti pendidikan selama 24 jam, benar-benar Full Day School!
Berbagai bidang ilmu keagamaan dipelajari oleh santri akan tetapi penguasaan
ilmu-ilmu tersebut bukanlah jaminan yang dapat membuatnya memiliki rasa takut
kepada Allah jika semua keilmuannya tidak termanifestasikan dalam bentuk
pengamalan (baca: karakter). Tanpa karakter “takut”, kehebatan seorang santri
dengan segala penguasaan ilmu agama hanya akan menempatkannya sebagai orang
yang berprofesi sebagai “ulama”, yang hanya akan mengukur dirinya dengan
seberapa besar bayaran yang diterimanya.
Ulama adalah pewaris para nabi, ia mewarisi tugas mulia dan tentunya harus
mewarisi pula sikap dan tindak-tanduk para nabi. Dengan kedudukan istimewa
(baca: ekslusivitas) para nabi, seorang ulama harus dapat melihat bagaimana
para nabi tetap sederhana dan berbaur dengan manusia tanpa mengeklusifkan diri.
Bahkan sebagaimana kita melihat dari pribadi Rasulullah s.a.w., beliau adalah
sosok yang sangat sering mengungkapkan perkataan:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
“Aku hanya seorang manusia seperti kalian.”
_
Dengan mempelajari ilmu agama dan melalui proses pembinaan (pendidikan
karakter) sebagai bentuk pengamalan langsung dari keilmuannya seorang santri
sudah membuka pintu kebaikan yang dijanjikan/dijamin oleh Allah SWT sebagaimana
diungkapkan dalam hadits berikut:
مَنْ يُرِدِ
اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)
“Barangsiapa yang Allah kehendaki
untuk mendapatkan kebaikan, niscaya ia dibuat memahami agama.” (Riwayat
Bukhari, Muslim dan perawi lainnya)
(Penulis; Ibnu Rudani)

No comments:
Post a Comment