Friday, January 26, 2018

PESANTREN Dan PARADIGMA KEULAMAAN

Ulama berasal dari akar kata ‘a-li-ma, yang memiliki arti mengetahui dan memahami. Orangnya disebut dengan ungkapan alim (ism fa’il) dengan bentuk jamak ‘ulama. Kata ini dalam bentuk mashdar memiliki arti pengetahuan dan ilmu, yang didefinisikan sebagai:
إدراك الشيء على ما هو عليه إدراكا جازما
“Mengetahui sesuatu pada ihwal yang sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti.” Pengertian tersebut memiliki negasi/sifat bertentangan dengan beberapa terkait daya pikir manusia seperti zhann (dugaan), wahm (pemahaman yang cenderung bertentangan) dan jahalah (ketidaktahuan) atau jahalah murakkab (pemahaman keliru/sesat yang dianggap benar).
Program Tahfizh Pesantren Al-Manaar; Berkomitmen dan Konsekwen

Pemahaman yang benar tidak hanya didapat dengan penalaran dan bukti-bukti empirik sebagaimana pengetahuan secara umum dibangun di atasnya. Satu bagian terbesar lain dari pengetahuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia (makhluk-Nya) melalui penyampaian wahyu yang harus disikapi dengan sikap/pemahaman yang berbeda yaitu keyakinan (intuisi). Mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang benar dengan keyakinan sangat berbeda dengan pengetahuan secara umum yang bisa didapatkan dengan observasi dan penalaran rasional. Keyakinan adalah pengetahuan terdalam (spiritualitas) yang hanya bisa diraih dengan sikap mendengar dan patuh (sami’na wa atha’na) pada segala yang disampaikan Allah melalui pewahyuan, yang seringkali berada di luar kemampuan nalar.
Mengenal Allah tidak dapat diraih dengan sikap menyangsikan, mempertanyakan atau sikap keraguan lain yang seringkali dijadikan landasan dalam kerangka berpikir manusia (ilmiah). Pondok pesantren, dengan berpegang teguh pada dua sumber pewahyuan – Al-Quran dan Sunnah, merupakan media pembelajaran yang akan mengantarkan santri pada keyakinan tersebut. Melalui berbagai media pembelajaran, bimbingan ibadah dan pembentukan moral (aqidah dan akhlak), segala bentuk pembelajaran santri tidak lain bertujuan untuk mengenal Allah (ma’rifat), yang tidak hanya berpijak pada rasionalitas atau bukti-bukti empirik, akan tetapi pada potensi keimanan (fitrah) yang sudah dibawanya sejak ia tercipta. Dengan potensi tersebut ia mendapatkan keyakinan yang kuat untuk selalu mengikuti segala petunjuk yang diberikan Allah SWT sebagaimana digambarkan dalam Firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ [١٠: ٩]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Yunus/10: 9)
Pesantren bukanlah tempat untuk melahirkan generasi yang hanya menguasai pengetahuan tentang agama (kognitif belaka). Pesantren adalah tempat untuk melahirkan manusia-manusia yang beragama secara penuh (kaffah) dalam bentuk pengamalan, yang substansinya adalah sebagai sosok yang selalu merasa takut kepada Allah SWT yang di dalam Al-Quran disebutkan sebagai identitas seorang ulama.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ [٣٥: ٢٨]
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir/35: 28)
Figuritas keulamaan kadang hanya dipahami sebagai status sosial atau bahkan dipandang sebagai satu profesi, sehingga muncul setigma negatif dan ikon stereotip yang sama sekali tidak senada dengan substansi rasa takut kepada Allah SWT. Terlebih ketika identitas tersebut diikuti dengan konsekuensi profesionalitas yang menentukan seberapa besar jumlah yang harus dibayar atau sebatas ikon-ikon dangkal yang kemudian dimunculkan sebagai karakteristik ulama. Peci, kain sorban, sarung, tasbih, bahkan sesuatu yang tidak hanya bersifat atribut seperti poligami dan hak-hak ekslusif, tak jarang dilekatkan pada figur keulamaan.
Ketakutan kepada Allah bersifat fundamental, menjadi nafas setiap tindak-tanduk dan sikap seorang ulama, yang tidak akan ditemui pada atribut atau terukur dengan publisitas. Ketakutan ini datang dari pengetahuan yang lebih memperkenalkannya dengan Allah dan segala kuasa-Nya. Ibnu Abbas mengatakan, ketakutan itu merupakan sesuatu yang dapat menjaganya dari mensekutukan Allah, yakni memenuhi segala bentuk penghambaan dan ibadah kepada Allah dengan kerangka keikhlasan yang membebaskan seseorang dari tujuan-tujuan selain Allah, kepentingan sesaat atau sifat mengikuti hawa nafsu.
Pondok pesantren merupakan salah satu sentra kaderisasi ulama, dimana santri ditempa dengan pendidikan karakter yang tersampaikan dengan berbagai media, interaksi dan segala bentuk aktivitasnya, secara penuh. Setiap harinya seorang santri mengikuti pendidikan selama 24 jam, benar-benar Full Day School! Berbagai bidang ilmu keagamaan dipelajari oleh santri akan tetapi penguasaan ilmu-ilmu tersebut bukanlah jaminan yang dapat membuatnya memiliki rasa takut kepada Allah jika semua keilmuannya tidak termanifestasikan dalam bentuk pengamalan (baca: karakter). Tanpa karakter “takut”, kehebatan seorang santri dengan segala penguasaan ilmu agama hanya akan menempatkannya sebagai orang yang berprofesi sebagai “ulama”, yang hanya akan mengukur dirinya dengan seberapa besar bayaran yang diterimanya.
Ulama adalah pewaris para nabi, ia mewarisi tugas mulia dan tentunya harus mewarisi pula sikap dan tindak-tanduk para nabi. Dengan kedudukan istimewa (baca: ekslusivitas) para nabi, seorang ulama harus dapat melihat bagaimana para nabi tetap sederhana dan berbaur dengan manusia tanpa mengeklusifkan diri. Bahkan sebagaimana kita melihat dari pribadi Rasulullah s.a.w., beliau adalah sosok yang sangat sering mengungkapkan perkataan:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
“Aku hanya seorang manusia seperti kalian.”
_
Dengan mempelajari ilmu agama dan melalui proses pembinaan (pendidikan karakter) sebagai bentuk pengamalan langsung dari keilmuannya seorang santri sudah membuka pintu kebaikan yang dijanjikan/dijamin oleh Allah SWT sebagaimana diungkapkan dalam hadits berikut:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)
“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan kebaikan, niscaya ia dibuat memahami agama.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan perawi lainnya)
(Penulis; Ibnu Rudani)



Saturday, January 6, 2018

Selayang Pandang

    Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah Pameungpeuk, berdiri sejak tahun 1990, merupakan Lembaga Pendidikan milik Muhammadiyah Cabang Pameungpeuk Garut terletak di Jl. Miramareu Kp. Wates Desa Sirnabakti Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut Jawa Barat.

    Dilatarbelakangi oleh kegelisahan anggota Muhammadiyah di Pameungpeuk akan kader ulama dan pendidikan agama khususna di ruang lingkup Muhammadiyah Cabang Pameungpeuk Garut, Pesantren Al-Manaar didirikan secara gotong royong yang melibatkan berbagai kalangan dari anggota Muhammadiyah Cabang Pameungpeuk di atas tanah seluas 8.000 meter persegi yang merupakan wakaf dari Keluarga Besar H. Kardi, seorang tokoh Muhammadiyah yang berprofesi sebagai pedagang. 
    Dalam kurun waktu hampir tiga dasawarsa tersebut, Pondok Pesantren Al-Manaar telah mengalami perkembangan dan pencapaian yang cukup signifikan. Kini dengan jumlah total santri lebih dari 300 orang, yang berasal dari berbagai daerah di Garut Selatan. Berbagai sarana dan prasarana penunjang telah melengkapinya yang terdiri dari asrama, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium komputer dan lapangan olah raga. Tersedia pula berbagai perlengkapan seni pertunjukan seperti marching band, angklung, marawis dan lain-lain.
    Sebagai pesantren milik Muhammadiyah, Al-Manaar merupakan pusat perkaderan organisasi dan peran dakwah islamiyah. Lulusan pondok pesantren Al-Manaar sedikit banyak telah memiliki peran penting dalam masyarakatnya khususnya dalam lingkup persyarikatan. Secara umum, khususnya di wilayah Cabang Pameungpeuk, dapat diperhatikan bagaimana lulusan-lulusan Pondok Pesantren Al-Manaar Pameungpeuk menjadi bagian dalam laju perjalanan organisasi Muhammadiyah Pameungpeuk. Sebagai jawaban akan kurangnya kader yang melanjutkan gerakan dakwah Muhammadiyah yang melatarbelakangi pendirian pesantren ini sendiri, lulusan Pondok Pesantren Al-Manaar sedikit banyak telah menunjukkan titik terang yang akan menjawab kekhawatiran tersebut, baik melalui peran di dalam Persyarikatan sendiri, di AUM-AUM, atau di intansi lain yang memiliki kedudukan penting bagi masyarakat Pameungpeuk khususnya anggota Persyarikatan.
(BSA)




Semoga Husnul Khatimah; Bacharuddin Jusuf Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie, lahir di Parepare Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936, tentu banyak gambaran di benak setiap orang mengenai sos...